Senjakala Fajar Nusantara

Senjakala Fajar Nusantara iMagine Vito Palestrina

Kukuruyuuk!!
Pagi ini kudengar lagi ayam berkokok seperti sebelumnya,
terdengar juga doa2 merambat melalui dinding-dinding tembok kamarku.
Juga suara seorang wanita terdengar, “uwek uwek” sedang ngidam sepertinya.
Hati bertanya, “Bini siapakah dia?”

Saat ini aku sudah bisa mencium aroma polusi nanti siang,
maka kuhirup udara pagi ini sedalam2nya.
Pagi ini kuingat di suatu pagi yang riuh dengan jeritan & genderang perang,
bersama dentingan parang & ratapan cedera para pembela keyakinan yang tangguh.

Oh kemanakah perginya kawanku & pembenciku?
Ah mereka sama saja, datang bersama pagi, hilang ditelan malam.
Pagi ini aku membaca tulisan kepedihan mereka,
orang2 yang telah dizolimi oleh takdir & waktu,
doa kepada sang Pencipta bagi mereka, doa untuk kedamaian & keadilan.

Namun..
Bukankah kita semua menginginkan itu?
“Oh dimanakah mereka, wahai rumput!” Ku bertanya.
Jawab mereka, “Kamilah rumput, jangan bertanya, berikan saja air, hidup hanya sekejap,
hidup adalah angin, kedamaian bukan disini, keadilan bukan milik kita, cinta adalah matahari, cinta adalah hujan!”

Lalu kubercermin pada air beriak,
kulihat wajahku berpendar, mataku, hidungku, mulutku,
oh kalian bergerak & terpisah satu sama lainnya, seperti senyawa yang berbeda unsur, datang lalu pergi,
mungkinkah kedamaian & cinta hadir tanpa keadilan?

Sejuknya angin seolah bergumam,
menyeruak menghadirkan imaji,

bayangan samar tentang para Syuhada, Patriot & para Pencipta berbisik, “Perang sudah usai.. Perang telah usai!”

Sekuntum bunga dibalik semak terlihat bergerak pelan,
wangi aromanya tercium seiring ular hitam mendesis dibaliknya.
Racunnya menetes jatuh ke tanah,
seekor tikus sakratul maut kejang dalam penantian ajalnya.

Pagi ini kukobarkan api senja,
biar siang tak bermakna lagi..
Karna siang ini,
kan kutabuh genderang perang yang bernama..
FITRAH..!

Jurang Mangu, July 10th 2018

WhatsApp chat